Memasuki pasar baru adalah langkah besar bagi berbagai brand global. Ekspansi memberi peluang pertumbuhan tetapi juga membawa risiko yang sering diabaikan. Risiko-risiko ini bisa muncul dari kurangnya riset, miskalkulasi perilaku konsumen, atau asumsi tentang kekuatan digital di pasar berkembang. Banyak perusahaan gagal bukan karena produk kurang bagus, melainkan karena tidak memperhitungkan risiko-risiko penting yang muncul saat market entry.
Berikut terdapat lima risiko yang sering diabaikan oleh brand:
1. Ketergantungan pada Tren Global Tanpa Konteks Lokal
Salah satu risiko terbesar adalah terlalu mengandalkan asumsi global tanpa menyesuaikan dengan konteks lokal. Setiap pasar memiliki karakter konsumen yang berbeda. Di Asia Tenggara, misalnya, perilaku konsumen digital sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan video commerce, yang menjadi kanal penting dalam keputusan pembelian di Indonesia dan kawasan regional.
Brand global yang mengabaikan perbedaan ini atau menganggap strategi yang berhasil di satu pasar akan langsung bekerja di pasar lain bisa mengalami kegagalan strategi pemasaran. Riset pasar yang tidak mendalam sering kali gagal menangkap nuansa perilaku lokal, termasuk preferensi media dan pola pembelian melalui platform digital.
2. Kelemahan dalam Riset dan Pemahaman Perilaku Konsumen
Riset pasar adalah fondasi dari market entry. Risiko yang sering muncul adalah perusahaan tidak memperbarui asumsi perilaku konsumen terbaru. Di pasar berkembang seperti Indonesia, pertumbuhan interaksi digital seperti konten video dan konten interaktif menjadi bagian besar dari pengalaman konsumen.
Ketika brand global memasuki pasar tanpa memahami bahwa konsumen mungkin lebih suka konten visual atau memiliki preferensi platform tertentu, strategi mereka menjadi kurang efektif. Tanpa insight yang tepat, kampanye pemasaran bisa tidak relevan dan menghabiskan anggaran tanpa hasil maksimal.
3. Risiko Regulasi dan Kepatuhan yang Diabaikan
Setiap pasar memiliki aturan dan regulasi tersendiri terkait perdagangan, pajak, perlindungan konsumen, dan data. Brand global yang kurang meneliti risiko regulasi di pasar target bisa menghadapi denda, penundaan izin, atau bahkan larangan operasional. Risiko ini sering muncul ketika perusahaan menganggap standar global bisa diterapkan di semua lokasi.
Contohnya, beberapa negara menerapkan pembatasan konten digital, aturan pajak e-commerce baru, atau persyaratan lokal tertentu untuk perlindungan konsumen. Ketidakpatuhan terhadap aturan ini bukan hanya berdampak finansial tetapi juga bisa merusak reputasi brand sebelum mereka memperoleh pijakan di pasar lokal.
4. Risiko Persaingan dan Posisi Brand yang Salah Estimasi
Pasar berkembang di Asia Tenggara kini sangat kompetitif pada sektor digital dan e-commerce. Nilai ekonomi digital Indonesia mendekati US$100 miliar pada 2025, dengan e-commerce sebagai kontributor terbesar GMV.
Dalam lanskap ini, brand global berkompetisi bukan hanya dengan merek internasional lain, tetapi juga pemain lokal yang sudah memahami seluk-beluk perilaku pembeli di pasar. Mengabaikan kekuatan dan strategi kompetitor lokal dapat membuat brand global meremehkan biaya pemasaran yang dibutuhkan untuk memperoleh perhatian konsumen dan pangsa pasar.
5. Risiko Infrastruktur dan Operasional yang Tidak Terukur
Satu lagi risiko yang sering diabaikan adalah tantangan infrastruktur dan operasional. Infrastruktur logistik, distribusi, serta dukungan teknologi lokal dapat berbeda drastis antarnegara. Misalnya, kendala dalam rantai pasok atau sistem distribusi di pasar berkembang dapat berdampak pada kemampuan perusahaan untuk memenuhi permintaan konsumen dengan cepat.
Tanpa perencanaan logistik yang matang, brand bisa mengalami penundaan pengiriman, biaya yang membengkak, dan pengalaman pelanggan yang buruk. Risiko semacam ini sering muncul ketika tim ekspansi global tidak melakukan audit operasional sebelum peluncuran, atau ketika asumsi infrastruktur dibuat berdasarkan pasar asal yang lebih maju.
Strategi Mengelola Risiko dalam Market Entry
Agar risiko-risiko tersebut tidak menghancurkan ekspansi global, perusahaan perlu menerapkan beberapa strategi berikut:
-
Riset Pasar Berlapis: Gunakan data primer dan sekunder untuk memahami preferensi konsumen lokal.
-
Kolaborasi Lokal: Bermitra dengan pemain lokal untuk akses insight dan jaringan distribusi yang lebih kuat.
-
Audit Kepatuhan Regulasi: Periksa semua aspek hukum dan regulasi sebelum peluncuran.
-
Analisis Kompetitor Mendalam: Identifikasi kekuatan dan strategi kompetitor lokal serta global.
-
Uji Operasional Skala Kecil: Uji jalur logistik dan distribusi sebelum skala penuh untuk mengurangi risiko operasional.
QUICK INSIGHT
Market entry adalah peluang besar bagi brand global tetapi juga penuh risiko yang sering diabaikan. Risiko seperti asumsi pasar yang salah, kurangnya riset perilaku konsumen, risiko regulasi, persaingan lokal, dan tantangan operasional bisa membuat ekspansi gagal bahkan sebelum benar-benar dimulai. Dengan strategi mitigasi yang matang dan riset yang mendalam, perusahaan bisa memahami pasar lebih baik dan meningkatkan peluang suksesnya.
Brand yang mampu mengantisipasi dan mengelola risiko dalam market entry akan lebih siap memanfaatkan peluang pertumbuhan di pasar berkembang terutama di wilayah dengan dinamika digital yang cepat seperti Asia Tenggara.
Lakukan riset Market Entry bersama Sigma Research Indonesia. Selama 18 tahun melakukan riset berbasis insight data untuk membantu banyak brand menentukan strategi yang efektif untuk melakukan market entry. Hubungi Admin SRI Melalui Whatsapp Bisnis atau email info@sigmaresearch.co.id


