“Polemik AirAsia & Dinamika Industri Aviasi Vietnam”
Maskapai low-cost global seperti AirAsia kesulitan masuk Vietnam karena regulasi kepemilikan asing yang ketat, kompetisi kuat dari maskapai lokal, dan struktur industri yang sangat diproteksi negara. Penguasaan rute domestik oleh Vietnam Airlines dan VietJet membuat pendatang baru sulit memperoleh slot, izin, dan skala operasi yang memadai. Strategi ekspansi aviasi ke Vietnam harus berbasis riset lokal, kemitraan, dan pemahaman struktur regulasi.
Vietnam: Pasar Besar, Tapi Sangat Terproteksi
Vietnam adalah salah satu pasar aviasi dengan pertumbuhan tercepat di Asia.
Beberapa indikator penting:
-
30–40% pertumbuhan penumpang domestik pascapandemi (Vietnam Airlines/CAAV, 2023–2024).
-
Vietnam masuk top 5 pasar aviasi terbesar di Asia Tenggara.
-
Kenaikan permintaan rute domestik ke kota sekunder seperti Da Nang, Nha Trang, Hue, Can Tho.
-
Pertumbuhan low-cost carrier (LCC) dipimpin oleh VietJet, bukan maskapai asing.
Pertumbuhan ini menjadikan Vietnam pasar potensial — namun pemerintah tetap mempertahankan kontrol ketat dalam struktur kepemilikan maskapai.
Kasus AirAsia: Kenapa Tidak Berhasil?
AirAsia beberapa kali berupaya masuk Vietnam (2005, 2010, 2018) melalui rencana joint venture, namun seluruhnya gagal terealisasi.
Faktor-faktor utama:
🔹 1. Regulasi kepemilikan asing
Vietnam membatasi kepemilikan asing dalam maskapai domestik (biasanya maksimal 30%).
Artinya, AirAsia membutuhkan mitra lokal yang tidak hanya kuat secara finansial, tetapi mampu memenuhi syarat politik, hubungan pemerintah, dan izin operasional.
Kenyataannya, kesepakatan JV AirAsia dengan partner lokal berulang kali gagal mencapai persetujuan regulator.
🔹 2. Kompetisi kuat maskapai lokal
Vietnam Airlines dan VietJet menguasai pasar domestik:
-
Vietnam Airlines: rute utama & kapasitas premium
-
VietJet Air: pemain LCC terbesar di Vietnam
-
Bamboo Airways: pemain baru dengan ekspansi agresif
Maskapai global akan kesulitan masuk ketika dua pemain lokal menguasai slot, rute, dan bandara strategis.
🔹 3. Slot bandara & kapasitas infrastruktur
Bandara-bandara besar seperti Tan Son Nhat (HCMC) dan Noi Bai (Hanoi) hampir mencapai kapasitas penuh.
Slot terbatas → pendatang baru sulit memperoleh rute yang menguntungkan.
🔹 4. Tantangan profitabilitas
Pasar aviasi Vietnam sangat sensitif harga.
Tanpa skala rute domestik, maskapai global sulit mencapai load factor yang stabil.
🔹 5. Model ekspansi yang “copy-paste”
AirAsia mencoba mengulang sukses ekspansi Thailand/Filipina/Indonesia, namun:
-
Regulasi Vietnam jauh lebih ketat
-
Persaingan domestik lebih agresif
-
Pemerintah memprioritaskan maskapai nasional
Hasilnya: strategi tidak sesuai dengan konteks lokal.
Struktur Pasar Aviasi Vietnam: Negara Sangat Terlibat
Industri penerbangan Vietnam tidak hanya dipengaruhi pasar, tetapi juga oleh:
📌 Peran kuat pemerintah
CAAV (Civil Aviation Authority of Vietnam) mengatur:
-
Slot
-
Izin rute
-
Sertifikasi armada
-
Joint venture asing
-
Tarif batas bawah/atas
📌 Perlindungan maskapai lokal
Vietnam Airlines adalah maskapai nasional. Keberadaan VietJet sebagai LCC lokal memperkuat posisi negara dalam menentukan arah pasar.
📌 Keamanan & standar teknis
Pendatang baru harus mematuhi standar keamanan & audit yang ketat — prosesnya panjang dan kompleks, terutama untuk pemain yang tidak punya partner lokal.
Kenapa Maskapai Asing Harus Hati-Hati?
Tidak hanya AirAsia — banyak maskapai asing kesulitan menembus rute domestik Vietnam.
Poin pentingnya:
-
Tanpa rute domestik, pendatang baru sulit mencapai skala ekonomi.
-
Rute internasional saja tidak cukup untuk menutup biaya operasi.
-
Rute domestik “gemuk” sudah dikunci pemain lokal.
Dengan kata lain:
Vietnam adalah pasar besar, tetapi bukan pasar mudah.
Apa yang Dibutuhkan Maskapai Jika Ingin Masuk Vietnam?
Berdasarkan pola kegagalan AirAsia & kondisi pasar, inilah strategi paling realistis:
✔ 1. Joint venture dengan mitra lokal yang kredibel
Bukan hanya kuat finansial, tetapi juga memiliki kemampuan hubungan pemerintah.
✔ 2. Strategic route entry
Masuk lewat rute sekunder (misalnya Da Nang, Hai Phong) sebelum rute utama.
✔ 3. B2B & kode sharing
Kolaborasi dengan maskapai lokal untuk memperluas jangkauan tanpa memaksa ekspansi armada.
✔ 4. Studi permintaan & rute (route demand analysis)
Setiap kota memiliki pola permintaan rute, demografi, dan musiman yang berbeda.
✔ 5. Pricing & ancillary revenue yang adaptif
Pasar Vietnam sangat price-sensitive; strategi ancillary (bagasi, seat selection, meals) perlu diuji secara lokal.
Peran Sigma Research Indonesia
Sigma Research dapat membantu maskapai:
-
Feasibility study masuk pasar Vietnam
-
Analisis permintaan rute & segmentasi penumpang
-
Riset perilaku penumpang LCC & premium
-
Analisis kompetitor: VietJet, Vietnam Airlines, Bamboo Airways
-
Stakeholder mapping untuk partner lokal
-
Simulasi pricing & brand preference
Pendekatan berbasis data membantu maskapai mengurangi risiko sebelum investasi besar.
Hubungi Sigma Research Indonesia untuk riset pasar yang lebih valid dengan analisa dan data real-time di Indonesia. Sigma dengan cakupan ke seluruh wilayah Indonesia, dapat memberikan data menyeluruh yang Anda dan bisnis Anda butuhkan, sehingga kesulitan yang dialami AirAsia saat masuk ke Vietnam tidak akan terjadi pada brand Anda di Indonesia.



