“Prioritas, Motivasi Pembelian, dan Trend Spending Menjelang 2026”
Akhir 2025 menunjukkan perubahan besar dalam mindset konsumen. Value-seeking meningkat, namun aspirasi gaya hidup tetap tinggi. Konsumen lebih selektif dan ingin bukti nyata dari brand. Untuk masuk menjadi brand yang dilirik, baik brand lokal maupun brand global harus melihat mana kategori bisnis yang tumbuh dan berkembang di Indonesia serta masih di minati di tahun depan. Bagaimana cara mengetahuinya secara pasti? Jawabannya adalah dengan melakukan survei, baik langsung menggunakan form, FGD, atau bahkan IDI/F2F. Mari kita sama-sama melihat mana-mana saja kategori brand yang diminati, menjadi priotitas, atau bahkan mendapatkan perhatian lebih sehingga menjadi tren, di bawah ini.
Kategori yang Tumbuh & Menurun
Tumbuh:
-
Beauty & personal care
-
FMCG premium
-
Home & lifestyle
-
Health & wellness
-
Digital services (fintech, education, streaming)
Menurun:
-
Fast fashion ultra-murah
-
Produk impor tanpa nilai jelas
-
Beberapa kategori elektronik
Kebanyakan brand yang tumbuh adalah brand yang sudah memiliki value secara emosional dengan calon pembeli. Memanfaatkan kearifan lokal, nilai-nilai budaya, atau bahkan memanfaatkan momen yang menjadi rutinitas, misal untuk di Indonesia: Ramadan, Lebaran, Hari Kartini, dan lainnya. Tanpa melihat brand itu sudah terkenal di kancah global atau pun tidak.
Motivasi Pembelian Baru 2025
Value & Quality
Konsumen rela bayar lebih jika produknya worth it.
Trust & Transparency
Review nyata, bukti manfaat, dan jaminan kualitas makin penting.
Lifestyle Aspiration
Walau value-driven, konsumen tetap ingin brand yang relevan secara emosional.
Di era yang mayoritas penduduk produktifnya adalah Gen Z, brand harus cermat melihat arah motivasi dan tujuan pembelian konsumennya. Saat ini Gen Z lebih memilih nilai dan kualitas barang dan apakah barang itu dirasa memiliki kedekatan akan kebutuhan dan emosional mereka. Gen Z dinilai semakin cermat dalam membelanjakan uangnya, namun juga memiliki ambisi yang jelas untuk goals dari setiap pembelanjaan, misalnya:
“Gen Z memilih menggunakan public transportation dibandingkan memaksakan mencicil kendaraan demi menabung untuk nonton konser brand atau musisi favorit mereka.”
Fenomena ini menunjukkan bahwa 3 poin di atas adalah 3 poin terpenting dalam acuan mayoritas populasi konsumen saat ini.
Perilaku Hybrid Online–Offline
Konsumen melakukan:
-
Riset online → beli offline
-
Coba offline → beli online
-
Live commerce → checkout di marketplace
Brand harus hadir di seluruh titik kontak.
Karena pergerakan digitalisasi saat ini cukup cepat dan cukup menjadi pilihan mayoritas populasi terbesar yaitu Gen Z dan Milenial, brand harus paham betul bagaimana menempatkan posisi lokasi penjualan mereka. Apakah hanya di online saja, apakah perlu berbentuk omni-channel, cukupkah dengan promo toko online atau harus agresif dengan melakukan Live di semua platform penjualan?
Jawaban pastinya adalah harus melakukan riset, karena beda kategori bisnis akan beda juga hasilnya. Beda lokasi dan negara beda juga consumer insight yang muncul terutama di Indonesia selama 2025.
Sikap terhadap Brand Global vs Lokal
-
Brand global dipercaya soal kualitas.
-
Brand lokal unggul pada relevansi dan harga.
-
Kombinasi keduanya (global yang berperilaku lokal) paling disukai.
Saat ini konsumen sudah mulai cerdas dan pandai melihat kebutuhan. Tidak semua barang “branded” atau berkelas dan berstandar internasional pasti mendapatkan pembeli yang banyak. Terkadang, produk yang umum namun berguna bahkan sangat dibutuhkan atau memiliki sisi emosional dengan harga yang terjangkau lah yang lebih banyak pembelinya di Indonesia. Brand global harus mau melakukan riset sebelum masuk ke pangsa pasar Indonesia, karena budayanya beragam, masyarakatnya pun memiliki preferensi yang unik dan berbeda dengan negara lain.
Tren 2026 yang Mulai Terlihat
-
Personalization via AI
-
Local-first branding
-
Produk hibrida (digital + fisik)
-
Pembayaran konsumsi otomatis (subscription + cashback)
Consumer insight Indonesia 2025 menegaskan bahwa konsumen bukan hanya pintar, tapi juga selektif. Brand yang menang adalah yang mendengar, menyesuaikan, dan merespons cepat.
Bersama partner riset yang tepat, brand Anda bisa lebih tepat mendengar, menyesuaikan, dan merespons cepat kebutuhan dan keinginan konsumen. Hubungi Sigma Research Indonesia untuk berdiskusi dengan tim ahli kami.



