Tren emosional seperti nostalgia dapat memengaruhi brand preference jika didukung relevansi dan pengalaman yang konsisten. Brand tracking membantu memastikan emosi berujung pada pilihan brand.
Tren nostalgia 2016 yang menguat di 2026 tidak hanya berdampak pada brand awareness dan brand recall, tetapi juga pada aspek yang lebih krusial dalam pengambilan keputusan konsumen: brand preference. Banyak brand berhasil menarik perhatian dan memicu emosi, tetapi tidak semuanya berhasil menjadi pilihan utama konsumen.
Artikel ini membahas bagaimana tren emosional—khususnya nostalgia—memengaruhi brand preference, mengapa awareness tidak selalu berujung pada preferensi, dan bagaimana brand dapat mengukurnya secara sistematis melalui pendekatan riset.
Brand Preference: Tahap Lanjut dari Awareness
Brand preference menggambarkan kondisi ketika konsumen:
-
Lebih menyukai satu brand dibanding kompetitor
-
Mempertimbangkan brand tersebut lebih dulu saat membeli
-
Merasa “cocok” secara emosional maupun rasional
Dalam konteks ini, awareness adalah syarat awal, tetapi preference adalah hasil keputusan. Tren emosional dapat mendorong transisi ini—atau justru gagal melakukannya.
Bagaimana Tren Emosional Mempengaruhi Preferensi
Nostalgia memengaruhi preference melalui beberapa mekanisme:
-
Kedekatan emosional: brand terasa familiar dan aman
-
Reduksi risiko: konsumen cenderung memilih brand yang “terasa dikenal”
-
Asosiasi positif: emosi masa lalu memengaruhi penilaian saat ini
Namun, emosi saja tidak cukup. Tanpa relevansi fungsional dan konsistensi pengalaman, preferensi tidak akan terbentuk secara berkelanjutan.
Mengapa Awareness Tinggi Tidak Selalu Menghasilkan Preference
Banyak kampanye nostalgia menghasilkan awareness tinggi, tetapi preference stagnan. Penyebab umumnya:
-
Nostalgia hanya berhenti pada konteks budaya, bukan brand
-
Emosi yang muncul tidak dikaitkan dengan manfaat nyata
-
Pengalaman produk atau layanan tidak mendukung ekspektasi
Di sinilah brand sering keliru menilai keberhasilan kampanye emosional.
Peran Brand Tracking dalam Mengukur Preference
Untuk memahami dampak tren emosional terhadap preference, brand perlu pengukuran yang tepat. Brand tracking dapat mencakup:
-
Perubahan brand preference score dari waktu ke waktu
-
Hubungan antara asosiasi emosional dan pilihan brand
-
Perbedaan preferensi antar segmen (misalnya Gen Z vs milenial)
Pendekatan longitudinal penting untuk melihat apakah nostalgia:
-
Menciptakan preferensi baru
-
Menguatkan preferensi lama
-
Atau hanya memicu perhatian sesaat
Preference yang Berkelanjutan Butuh Konsistensi
Brand preference yang terbentuk dari emosi perlu didukung oleh:
-
Konsistensi positioning
-
Pengalaman produk dan layanan yang relevan
-
Komunikasi yang selaras lintas kanal
Tanpa konsistensi ini, preferensi akan mudah bergeser saat tren berubah.
Implikasi Strategis bagi Brand di 2026
Bagi brand yang memanfaatkan tren emosional, artikel ini menegaskan bahwa:
-
Emosi dapat membuka pintu, tetapi bukan penentu akhir
-
Preference adalah hasil interaksi emosi, relevansi, dan pengalaman
-
Pengukuran preference perlu menjadi bagian inti dari brand tracking
Brand yang mampu membaca hubungan ini akan lebih siap membangun pilihan jangka panjang, bukan sekadar momentum sesaat.
Penting untuk Dibaca!
Tren nostalgia 2016 menunjukkan bahwa emosi memainkan peran penting dalam membentuk brand preference. Namun, tanpa pengukuran yang tepat, brand berisiko menyamakan awareness dengan keberhasilan strategis.
Melalui brand tracking yang komprehensif, brand dapat memahami apakah tren emosional benar-benar mendorong konsumen untuk memilih—bukan hanya mengingat—brand mereka. Di era 2026, kemampuan mengukur preferensi inilah yang membedakan strategi emosional yang berdampak dari sekadar tren yang lewat.
Tentukan dengan tepat ukuran brand tracking Anda bersama tim profesional Sigma Research Indonesia, hubungi Admin SRI melalui Whatsapp Bisnis untuk berdiskusi GRATIS dengan tim kami.


