AI dalam konsultasi manajemen 2026 tidak lagi berhenti pada proof-of-concept. Perusahaan membutuhkan AI readiness framework dan delivery model yang mampu menghasilkan dampak bisnis terukur.
Dalam dua bulan pertama 2026, banyak laporan global menunjukkan percepatan investasi perusahaan dalam kecerdasan buatan (AI). CEO dan eksekutif senior menjadikan AI sebagai prioritas utama transformasi bisnis dan pertumbuhan.
Namun di balik antusiasme tersebut, muncul tantangan baru bagi industri konsultasi manajemen:
bagaimana mengubah proyek AI dari sekadar proof-of-concept (PoC) menjadi delivery berskala yang benar-benar menciptakan nilai bisnis?
Artikel ini membahas perubahan peran konsultan di era AI 2026 dan bagaimana pendekatan berbasis data menjadi pembeda utama.
AI dalam Konsultasi Manajemen 2026: Bukan Lagi Sekadar Rekomendasi
Pada fase awal adopsi AI (2023–2024), banyak organisasi meminta konsultan untuk:
-
Mengidentifikasi use case AI
-
Melakukan feasibility study
-
Menyusun roadmap strategis
Namun di 2026, ekspektasi klien berubah. Mereka menginginkan:
-
Implementasi nyata dalam 3–6 bulan
-
Dampak finansial terukur
-
Integrasi AI ke dalam proses operasional
Dengan kata lain, AI dalam konsultasi manajemen kini bergeser dari “strategic advisory” menjadi “execution-enabled transformation”.
Mengapa Banyak Proof-of-Concept Gagal Diskalakan?
Beberapa tantangan umum dalam proyek AI:
1. Data Tidak Siap
Data tersebar, tidak bersih, atau tidak terstruktur.
2. Tidak Ada Governance
Tanpa AI governance framework, risiko reputasi dan bias meningkat.
3. Tidak Terintegrasi dengan Proses Bisnis
AI berdiri sendiri, tidak menyatu dengan workflow organisasi.
4. Skill Gap
Tim internal belum siap mengelola AI secara mandiri.
Tanpa evaluasi kesiapan yang sistematis, proyek AI hanya berhenti sebagai eksperimen.
Dari AI Strategy ke AI Readiness Consulting
Inilah titik di mana pendekatan AI readiness consulting menjadi krusial.
Sebuah framework AI readiness yang efektif mencakup:
-
Audit kesiapan data
-
Analisis maturity digital organisasi
-
Assessment kapabilitas tim
-
Identifikasi risiko & compliance
-
Rencana integrasi lintas fungsi
Pendekatan ini membantu memastikan AI bukan sekadar demo, tetapi benar-benar menghasilkan ROI.
Perubahan Model Delivery Konsultan di 2026
Tren global menunjukkan bahwa firm konsultasi kini mengadopsi model hybrid:
-
Konsultan strategi
-
Data engineer
-
AI architect
-
Change management specialist
Model ini memungkinkan:
-
Deployment lebih cepat
-
Iterasi berbasis data
-
Transfer capability ke klien
Consulting bukan lagi hanya tentang “memberikan jawaban”, tetapi “membangun sistem yang berjalan”.
Implikasi bagi Perusahaan di Indonesia
Bagi organisasi di Indonesia, tantangan AI sering kali bukan pada teknologi, tetapi pada:
-
Kualitas data internal
-
Kesiapan SDM
-
Struktur pengambilan keputusan
Pendekatan berbasis riset pasar dan organisasi—seperti yang dilakukan Sigma Research—dapat membantu perusahaan:
-
Memetakan peluang AI yang relevan
-
Menghindari investasi yang tidak berdampak
-
Mengukur kesiapan sebelum implementasi
AI bukan tentang ikut tren, tetapi tentang memilih use case yang tepat.
Catatan Penting Sigma Research
AI dalam konsultasi manajemen 2026 menuntut pergeseran dari sekadar strategi ke eksekusi terukur. Proof-of-concept tidak lagi cukup. Perusahaan membutuhkan roadmap yang realistis, data yang siap, dan governance yang jelas.
Melalui pendekatan AI readiness consulting dan dukungan riset strategis, organisasi dapat memastikan transformasi digital berjalan dengan arah yang tepat—bukan hanya mengikuti gelombang teknologi.
Diskusikan dengan tim profesional Sigma Research Indonesia melalui Whatsapp Bisnis dan dapatkan GRATIS konsultasi awal.


