Coffee To-Go: Peluang Besar yang Belum Digarap Maksimal Brand Lokal

Peluang pasar ready-to-drink (RTD) coffee atau coffee to-go Indonesia tumbuh pada CAGR 11,3% dan diproyeksikan mencapai USD 3,2 miliar pada 2028 (Grand View Research, 2024). Di rak minimarket, segmen ini sudah diramaikan oleh beberapa brand yang bergerak cepat. Namun ada celah yang mencolok: mayoritas brand kopi lokal dengan basis konsumen loyal yang kuat belum masuk ke segmen coffee to-go secara massal.

Ini bukan keterbatasan pasar. Ini adalah white space yang masih terbuka.


 

Mengapa Coffee To-Go Relevan untuk Brand Kopi Lokal?

Konsumen urban Indonesia memiliki dua kebutuhan kopi yang berbeda: pengalaman ngopi di outlet yang lebih sosial dan experiential, dan kopi harian yang praktis untuk konsumsi di perjalanan atau di kantor. Selama ini, brand kopi lokal hanya melayani kebutuhan pertama.

Coffee to-go menjawab kebutuhan kedua — dan membuka akses ke segmen konsumen yang mungkin tidak selalu punya waktu atau kesempatan mengunjungi outlet fisik. Distribusi melalui minimarket dan supermarket memperluas jangkauan brand tanpa perlu investasi outlet baru.


 

4 Keunggulan Coffee To-Go untuk Brand yang Sudah Punya Brand Equity

Brand kopi lokal yang sudah memiliki basis konsumen loyal memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan saat memasuki segmen coffee to-go. Mereka berpotensi memiliki peluang pasar lebih tinggi untuk coffee to-go asalkan memerhatikan beberapa brand equity berikut:

  • Pertama, awareness sudah terbangun, konsumen yang mengenal brand di outlet akan lebih mudah diperlukan mencoba versi kemasannya.
  • Kedua, trust terhadap kualitas sudah ada, berbeda dengan brand baru yang harus membangun persepsi kualitas dari nol.
  • Ketiga, potensi cross-promotion antara outlet dan produk kemasan untuk mendorong trial.
  • Keempat, data konsumen existing dapat digunakan untuk menentukan profil target dan preferensi rasa yang paling relevan.

 

Tantangan yang Tidak Boleh Diremehkan

Namun masuk ke segmen coffee to-go bukan tanpa risiko. Tiga tantangan terbesar yang sering dihadapi brand: pertama, menjaga konsistensi rasa dalam kemasan — profil rasa kopi yang nikmat di outlet tidak selalu dapat direplikasi dalam kemasan botol atau cup dengan masa simpan lebih panjang. Kedua, supply chain dan distribusi yang memerlukan kapabilitas berbeda dari operasional outlet. Ketiga, pricing yang harus kompetitif di rak minimarket tanpa mengorbankan margin atau merusak persepsi premium brand.

Konsumen kopi urban dapat dipersiasi untuk membeli versi kemasan dari brand kopi outlet favorit mereka, namun bagaimana dengan daya tariknya? Range harga yang bisa ditawarkan adalah rasanya konsisten dan harganya tidak lebih dari 30% di atas brand RTD yang sudah ada. Untuk kepastian akan startegi ini Anda sebagai brand perlu melakukan riset atau survei langsung seperti Face-to-Face, Focus Group Discussion (FGD) atau bahkan In-Depth Interview (IDI).


 

5 Hal yang Wajib Divalidasi Sebelum Launch

Sebelum berinvestasi di segmen coffee to-go, lima pertanyaan harus dijawab dengan data:

  1. Seberapa besar potensi pasar di segmen demografis target?
  2. Siapa profil konsumen yang paling potensial untuk trial pertama?
  3. Di harga berapa produk masih terasa sepadan di rak minimarket?
  4. Apakah profil rasa produk diterima secara blind taste test tanpa pengaruh brand?
  5. Channel distribusi mana yang paling efektif untuk fase awal?

 

FAQ

Q: Berapa investasi minimum untuk masuk ke segmen coffee to-go?

A: Investasi awal bergantung pada skala produksi dan channel distribusi. Pilot terbatas dengan produksi 5.000–10.000 unit untuk distribusi di outlet sendiri dan beberapa minimarket area tertentu dapat dimulai dari Rp 200–500 juta termasuk riset, pengembangan produk, dan packaging. Rollout massal ke jaringan minimarket nasional memerlukan investasi yang jauh lebih signifikan dan sebaiknya dilakukan setelah validasi pilot berhasil.


Q: Berapa lama waktu pengembangan produk coffee to-go dari konsep hingga siap jual?

A: Timeline rata-rata untuk brand yang sudah memiliki produk minuman: 6–9 bulan dari riset awal hingga produk siap di rak. Ini mencakup pengembangan formula untuk kemasan, uji masa simpan, uji keamanan pangan, pengembangan packaging, dan registrasi produk ke BPOM. Riset konsumen sebaiknya dilakukan sebelum dan selama proses pengembangan, bukan setelah produk selesai.


Q: Apakah brand kopi lokal bisa bersaing harga dengan produk RTD yang sudah ada?

A: Bersaing langsung di segmen harga adalah strategi yang sulit untuk brand kopi lokal dengan brand equity yang sudah terbangun. Pendekatan yang lebih efektif adalah positioning di segmen premium RTD — harga 20–40% di atas produk massal, dengan justifikasi kualitas biji kopi, proses produksi, dan kekuatan brand. Segmen ini memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dan margin yang lebih sehat.


 

Sigma Research Indonesia membantu brand F&B memvalidasi potensi coffee to-go melalui market sizing, consumer segmentation, concept testing, dan analisis channel distribusi. Hubungi tim kami di sigmaresearch.co.id atau via Whatsapp untuk diskusi awal tanpa biaya. Tentukan startegi coffee to-go tepat berdasarkan data untuk peluang pasar yang terbaik dan relevan.

Our Free Reports

Our Premium Reports

Most Recent Posts

  • All Post
  • Bisnis Indonesia
  • Business & Management Consulting
  • Business Consulting
  • Consumer Insight
  • Development
  • Investment
  • Kabar Terkini
  • Keuangan dan Finansial
  • Konsultan Riset
  • Management Consulting
  • Marketing
  • MBS
  • Mystery Shopping
  • Research indonesia
  • Riset & Survei
  • Riset Indonesia
  • Riset Pasar
  • Strategies
  • Trend Bisnis
  • Trend teknologi dan platform digital
    •   Back
    • Market Research
    • Agency Market Research
    •   Back
    • Data Analytics