Mie Gacoan Tidak Pernah Sepi
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak brand F&B mengalami lonjakan traffic setelah viral. Namun, sebagian besar tidak mampu mempertahankan momentum tersebut. Traffic tinggi di awal tidak otomatis berujung pada keberlanjutan.
Namun pada kasus Mie Gacoan, terlihat pola yang berbeda. Brand ini tetap ramai meskipun fase viral telah berlalu. Artinya, terdapat faktor lain yang bekerja di luar viralitas.
Tentang Mie Gacoan
Mie Gacoan adalah jaringan restoran mie pedas di Indonesia yang berdiri sejak 2016. Gerai pertama berlokasi di kawasan Soekarno Hatta, Malang. Pada fase awal, ekspansi difokuskan di Jawa Timur dengan target utama mahasiswa dan anak muda.
Dalam waktu kurang dari satu dekade, Mie Gacoan berkembang pesat menjadi jaringan nasional dengan lebih dari 400 cabang.
Indikator yang Menjelaskan Kekuatan Brand
Performa brand tidak cukup hanya dilihat dari jumlah outlet. Indikator yang lebih relevan adalah posisi brand dalam perilaku konsumen.
Berdasarkan riset yang sudah dilakukan Sigma Research Indonesia tahun 2024, Mie Gacoan mendapat penilaian:
|
88% Awareness |
58% Past 3 Month Usage |
36% Brand Used Most Often (BUMO) |
5% Consideration |
Kombinasi ini menunjukkan pola yang tidak umum. Banyak brand memiliki awareness tinggi, tetapi usage rendah. Pada Mie Gacoan, awareness tinggi diikuti oleh usage yang juga tinggi.
Gap antara “dikenal” dan “digunakan” relatif kecil. Ini menunjukkan bahwa brand tidak berhenti di tahap trial.
Harga yang Mengunci Frekuensi Konsumsi
Hasil temuan juga mengatakan rata-rata pengeluaran di Mie Gacoan berada di Rp69.644. Sementara itu, budget konsumsi Gen Z dan Milenial berada di rentang Rp50.000–Rp150.000.
Posisi harga ini krusial karena:
- Cukup rendah untuk konsumsi rutin
- Cukup relevan untuk tetap dianggap “worth it”
Brand tidak terjebak sebagai pilihan sesekali. Sebaliknya, ia masuk ke dalam pola konsumsi berulang.
Driver yang Bersifat Fundamental
Sebagian besar brand viral didorong oleh tren. Namun, tren bukan driver yang sustain.
Pada Mie Gacoan, tiga alasan utama kunjungan adalah:
- Rasa makanan dan minuman enak
- Variasi menu
- Fasilitas yang tersedia
Ketiga faktor ini mencerminkan dua dimensi:
- Core value — rasa dan variasi
- Supporting value — fasilitas dan kenyamanan
Artinya, keputusan konsumsi tidak hanya dipicu oleh eksposur, tetapi oleh pengalaman yang dapat diulang.
Implikasi untuk Brand F&B
Kasus Mie Gacoan menunjukkan bahwa viral hanya berfungsi sebagai akselerator, bukan fondasi.
Brand yang ingin bertahan perlu memastikan:
- Awareness dikonversi menjadi usage
- Harga memungkinkan frekuensi konsumsi
- Experience cukup kuat untuk diulang
Tanpa ketiganya, traffic akan kembali ke baseline setelah tren berakhir.
FAQ
Q: Apakah viral tetap penting dalam strategi F&B?
Ya, tetapi perannya terbatas pada awareness dan trial. Tanpa sistem yang mendorong repeat, dampaknya tidak berkelanjutan.
Q: Indikator apa yang menunjukkan brand sudah bertahan?
Past 3 month usage dan BUMO adalah indikator paling relevan karena menunjukkan apakah brand masuk ke dalam konsumsi rutin.
Q: Mengapa banyak brand gagal setelah viral?
Karena tidak mampu mengonversi ekspektasi menjadi pengalaman yang konsisten. Gap ini menghambat repeat.
|
Sudah saatnya riset market bekerja untuk keputusan Anda Kami membantu perusahaan merancang riset yang dimulai dari keputusan — bukan dari kuesioner. Sigma Research akan me-review tantangan riset Anda dan mengidentifikasi gap decision alignment dalam satu sesi kerja bersama.
Gratis · Satu sesi · Fokus pada keputusan bisnis Anda Artikel terkait:
|
Autor: Putri Amimah Salsabila
Picture: https://miegacoanjakarta.id/



