Airbnb Gagal Masuk Pasar China: Pelajaran Penting untuk Market Entry
Kasus Airbnb gagal di China menjadi salah satu contoh paling relevan tentang bagaimana kesalahan riset market entry dapat memengaruhi strategi ekspansi global. Meski dikenal sebagai platform akomodasi terbesar di dunia, Airbnb tetap tidak mampu mempertahankan pertumbuhan di pasar China. Kegagalan ini menunjukkan bahwa kekuatan brand global tidak selalu menjamin kesuksesan, terutama ketika riset pasar tidak dilakukan secara akurat dan mendalam.
Melalui artikel ini, kita akan membahas mengapa Airbnb gagal di China, faktor riset yang meleset, serta pelajaran yang dapat diterapkan di konteks Indonesia.
1. Mengapa Airbnb Gagal di China: Riset Permintaan yang Tidak Tepat
Salah satu alasan utama Airbnb gagal di China adalah ketidakakuratan dalam memprediksi demand lokal. Airbnb mengasumsikan bahwa konsumen China akan menggunakan platform mereka terutama untuk perjalanan domestik, seperti perilaku pengguna di negara lain.
Namun data menunjukkan hal sebaliknya: mayoritas pengguna Airbnb di China menggunakan platform tersebut untuk perjalanan ke luar negeri.
Kesalahan riset permintaan ini membuat:
-
perkiraan market size terlalu optimistis,
-
strategi pertumbuhan tidak relevan,
-
alokasi investasi tidak sesuai arah pasar,
-
akuisisi host dan guest tidak berjalan efektif.
Ini membuktikan bahwa market entry harus dibangun berdasarkan riset demand yang presisi.
2. Kompetisi Lokal: Faktor Besar Dalam Kegagalan Airbnb di China
Selain demand yang salah dibaca, Airbnb gagal di China karena meremehkan kekuatan kompetitor lokal seperti Tujia. Platform lokal jauh lebih memahami:
-
kebutuhan konsumen China,
-
ekosistem pembayaran digital domestik,
-
integrasi layanan populer seperti WeChat,
-
preferensi keamanan dan verifikasi host.
Kurangnya riset kompetitif membuat Airbnb hanya terlihat sebagai pemain asing yang tidak memenuhi kebutuhan lokal secara komprehensif.
3. Tantangan Regulasi dan Budaya di China
China memiliki regulasi ketat terkait perizinan hunian, keamanan data, dan kontrol properti. Banyak host Airbnb mengalami kesulitan dalam proses pendaftaran dan kepatuhan administratif. Selain itu, preferensi konsumen China menekankan keamanan, pelayanan cepat, dan kontak langsung, yang kurang diakomodasi model Airbnb.
Faktor budaya dan regulasi yang rumit ini menunjukkan bahwa riset market entry Airbnb tidak cukup dalam untuk membaca risiko operasional.
4. Pelajaran untuk Indonesia: Riset Market Entry Harus Lebih Presisi
Konteks Indonesia memiliki dinamika yang unik. Brand global maupun lokal perlu mempelajari kegagalan Airbnb di China sebagai alarm penting bahwa riset pasar tidak boleh berbasis asumsi.
Indonesia memerlukan riset yang fokus pada:
-
validasi demand di setiap segmen,
-
kompetisi lokal yang berkembang cepat,
-
regulasi sektor digital, properti, dan perlindungan data,
-
insight budaya dan perilaku pengguna Indonesia.
Dengan pendekatan riset yang presisi, risiko salah langkah dapat diminimalkan.
Kesimpulan: Lakukan Riset Market Sebelum Melakukan Market Entry
Kisah Airbnb gagal di China adalah pelajaran strategis bahwa market entry tidak bisa mengandalkan reputasi brand atau asumsi global. Tanpa riset demand yang akurat, analisis kompetitor lokal yang kuat, serta pemahaman budaya yang mendalam, strategi ekspansi akan mudah meleset. Airbnb menunjukkan bahwa bahkan perusahaan global sekaliber mereka pun bisa jatuh ketika riset market entry tidak dilakukan dengan tepat.
Dalam melakukan riset market diperlukan partner yang terpercaya agar data yang didapat sesuai dengan fakta yang ada dilapangan, Sigma Research Indonesia selama 17 tahun bersama tim ahli telah membantu banyak brand nasional maupun internasional dalam melakukan riset market entry berbasis data dan mengubahnya menjadi insight untuk strategi bisnis yang lebih tepat dan relevan dengan kebutuhan pasar. Hubungi Admin SRI Melalui Whatsapp Bisnis atau email info@sigmaresearch.co.id



