Inflasi dan harga kebutuhan pokok yang terus berubah menjadi tantangan tersendiri bagi konsumen dan brand di Indonesia. Di tengah tekanan ekonomi, kemampuan merek mempertahankan loyalitas pelanggan diuji secara nyata. Faktor-faktor seperti harga pangan, daya beli, dan persepsi nilai menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana inflasi dan harga pokok menguji brand loyalty serta implikasinya terhadap strategi bisnis di pasar Indonesia.
Inflasi Indonesia dan Konteks Ekonomi Konsumen
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa inflasi tahunan Indonesia pada September 2025 mencapai 2,65 % (year-on-year). Angka ini menunjukkan kenaikan harga secara umum di pasar. Meskipun bukan inflasi ekstrem, tekanan harga terutama terjadi di komoditas pangan dan barang kebutuhan harian yang memegang porsi signifikan dalam anggaran rumah tangga.
Kenaikan harga barang pokok memengaruhi daya beli konsumen. Ketika pendapatan nominal tidak naik sejalan dengan harga, konsumen menjadi lebih selektif. Ini langsung berpengaruh terhadap keputusan membeli serta kemauan mereka untuk tetap setia pada sebuah merek.
Contoh Kasus Kebutuhan Pokok
Harga beras menjadi contoh nyata dari fenomena ini. Pada 2025, meskipun produksi beras meningkat dan stok cukup besar di gudang, harga medium rice tetap tinggi, sekitar Rp15.950 per kilogram. Situasi ini mengejutkan banyak konsumen karena stok domestik yang memadai seharusnya menekan harga.
Dengan harga kebutuhan pokok yang tinggi, banyak konsumen mulai mempertimbangkan ulang pilihan merek mereka. Harga yang lebih murah atau alternative yang lebih ekonomis menjadi pertimbangan utama saat membeli kebutuhan harian. Inilah salah satu cara inflasi dan harga pokok menguji brand loyalty dalam praktik nyata.
Hubungan Antara Harga Pokok dan Loyalitas Merek
Brand loyalty tradisional sering dibangun melalui pengalaman konsumen, kualitas produk, dan hubungan emosional. Namun tekanan harga bisa memaksa konsumen untuk menunda pembelian atau beralih ke merek dengan harga lebih kompetitif.
Beberapa konsumen tetap loyal jika mereka melihat nilai yang kuat atau kualitas yang superior. Namun ketika harga kebutuhan pokok naik tajam, konsumen lain lebih responsif terhadap penawaran harga atau diskon. Tanda-tanda ini menunjukkan bahwa loyalitas merek bisa mulai terkikis ketika konsumen merasa “terpaksa” memilih harga daripada nilai merek.
Strategi Merek Menghadapi Tekanan Harga
Brand yang ingin bertahan dan tumbuh di tengah inflasi dan harga pokok yang fluktuatif harus menerapkan strategi yang berfokus pada nilai sambil tetap menjaga loyalitas. Beberapa pendekatan yang umum dan efektif antara lain:
- Penentuan Harga Dinamis (Dynamic Pricing)
Brand dapat menerapkan strategi harga yang responsif terhadap kondisi pasar. Ketika inflasi menekan daya beli, memberikan pilihan harga yang fleksibel bisa membantu mempertahankan pelanggan.
- Edisi Value Pack atau Paket Hemat
Paket bundling atau produk ukuran ekonomis memberi konsumen pilihan yang lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas.
- Program Loyalitas yang Relevan
Reward, poin, dan diskon eksklusif dapat memperkuat hubungan antara merek dan konsumen. Program ini harus dirancang agar nilai yang dirasakan tetap lebih tinggi daripada biaya transaksi.
Dampak Tekanan Harga terhadap Segmentasi Konsumen
Tidak semua konsumen bereaksi sama terhadap perubahan harga. Segmentasi menjadi elemen penting dalam strategi pemasaran:
-
Konsumen sensitif harga cepat beralih jika harga naik. Mereka cenderung memilih merek alternatif lebih murah.
-
Konsumen loyal jangka panjang tetap setia jika mereka melihat kualitas dan nilai sepadan.
-
Konsumen campuran mungkin loyal terhadap merek tertentu tetapi tetap mencari penawaran atau diskon.
Brand yang memahami segmentasi ini dapat merancang strategi yang lebih tepat sasaran. Misalnya, kampanye yang menyasar konsumen sensitif harga bisa memfokuskan pada nilai atau penawaran khusus.
Inflasi dan harga pokok menguji brand loyalty dengan cara yang nyata di Indonesia. Ketika harga kebutuhan pokok menjadi tidak stabil karena tekanan inflasi, konsumen menjadi lebih memperhatikan harga. Ini berarti loyalitas merek bisa terkikis jika brand tidak mampu memberikan nilai yang sebanding.
Lakukan riset consumer loyalty bersama Sigma Research Indonesia. Selama 17 tahun berkarya bersama tim ahli telah membantu banyak brand lokal maupun global dalam melakukan riset consumer loyalty berbasis insight data. Hubungi Admin SRI Melalui Whatsapp Bisnis atau email info@sigmaresearch.co.id



