Tren M&A dan aliansi strategis 2026 menuntut due diligence berbasis pasar dan pelanggan. Keputusan ekspansi harus didukung data agar sinergi dan pertumbuhan benar-benar tercapai.
Memasuki 2026, aktivitas merger dan akuisisi (M&A) kembali menjadi agenda utama banyak perusahaan global. Laporan awal tahun menunjukkan bahwa perusahaan tetap agresif mencari peluang pertumbuhan melalui akuisisi, kemitraan strategis, dan konsolidasi kapabilitas—terutama di area teknologi dan AI.
Di sisi lain, beberapa firma konsultasi global juga melakukan realokasi dan divestasi lini bisnis untuk memperkuat fokus strategisnya.
Tren ini menandai satu hal:
M&A bukan sekadar ekspansi, tetapi reposisi strategis di era transformasi 2026.
Artikel ini membahas bagaimana dinamika M&A memengaruhi praktik konsultasi manajemen, serta mengapa commercial & market due diligence menjadi lebih penting daripada sebelumnya.
M&A 2026: Bukan Hanya Soal Skala, Tapi Soal Kapabilitas
Di masa lalu, M&A sering dilakukan untuk:
-
Meningkatkan pangsa pasar
-
Mengakuisisi aset fisik
-
Memperluas distribusi
Namun di 2026, motivasi utama M&A bergeser ke:
-
Akuisisi kapabilitas digital dan AI
-
Akses terhadap data & teknologi
-
Integrasi talent dan intellectual property
Artinya, nilai akuisisi kini terletak pada kapabilitas masa depan, bukan sekadar pendapatan saat ini.
Tantangan Baru dalam M&A
Meski peluang besar terbuka, banyak transaksi gagal menciptakan nilai optimal karena:
1. Overestimasi Potensi Pasar
Tanpa riset pasar yang akurat, proyeksi pertumbuhan bisa terlalu optimistis.
2. Ketidaksesuaian Model Bisnis
Sinergi di atas kertas belum tentu berjalan dalam praktik.
3. Integrasi Budaya & Organisasi
Perbedaan struktur dan budaya kerja menghambat value realization.
4. Kelemahan dalam Commercial Diligence
Fokus terlalu besar pada aspek finansial, tetapi kurang pada analisis pasar dan pelanggan.
Di sinilah peran konsultasi berbasis data menjadi sangat penting.
Commercial & Market Due Diligence di Era 2026
Pendekatan due diligence modern harus mencakup:
-
Validasi ukuran dan pertumbuhan pasar
-
Analisis perilaku pelanggan & preferensi
-
Penilaian daya saing dan positioning brand
-
Simulasi skenario pertumbuhan realistis
-
Evaluasi risiko reputasi dan regulasi
Pendekatan ini memastikan keputusan akuisisi berbasis realitas pasar, bukan asumsi.
Aliansi Strategis sebagai Alternatif M&A
Selain akuisisi penuh, banyak perusahaan kini memilih:
-
Joint venture
-
Strategic partnership
-
Capability alliance
Pendekatan ini memungkinkan perusahaan:
-
Menguji kolaborasi sebelum merger
-
Mengurangi risiko finansial
-
Mempercepat transfer pengetahuan
Bagi konsultan manajemen, tren ini membuka ruang advisory baru dalam:
-
Partnership feasibility study
-
Go-to-market alignment
-
Ecosystem mapping
Implikasi bagi Perusahaan di Indonesia
Di Indonesia, peluang M&A dan aliansi strategis semakin terbuka di sektor:
-
Teknologi & digital services
-
Financial services
-
FMCG & personal care
-
Energy transition
Namun tantangan utama tetap sama:
Apakah keputusan ekspansi didukung oleh insight pasar yang komprehensif?
Sigma Research Indonesia dapat mendukung proses ini melalui:
-
Market & commercial due diligence
-
Customer insight study
-
Brand & competitive landscape analysis
-
Post-merger customer impact assessment
Dengan pendekatan berbasis data, perusahaan dapat meminimalkan risiko dan memaksimalkan sinergi.
Catatan Penting dari Sigma Research
M&A dan aliansi strategis di 2026 bukan hanya tentang memperbesar organisasi, tetapi tentang membangun kapabilitas masa depan. Tanpa due diligence berbasis pasar dan pelanggan, banyak transaksi berisiko gagal menciptakan nilai.
Dalam iklim bisnis yang kompetitif dan dinamis, keputusan ekspansi perlu ditopang oleh insight yang presisi. Consulting modern bukan lagi hanya soal strategi di atas kertas, tetapi tentang memastikan setiap langkah ekspansi memiliki dasar data yang kuat.
Lakukan diskusi GRATIS dengan tim profesional Sigma Research Indonesia melalui Whatsapp Bisnis.


