Memahami pola pikir Generasi Z dan Alpha Indonesia penting bagi bisnis, pendidik, dan perencana kebijakan yang ingin tetap relevan di era digital dan pasar yang cepat berubah. Kedua generasi ini tumbuh dalam lingkungan teknologi tinggi dan memiliki karakteristik unik dalam gaya hidup, konsumsi, serta cara mereka melihat dunia.
Generasi Z (lahir sekitar 1997–2012) adalah digital native yang tidak hanya nyaman dengan teknologi, tetapi juga menggunakannya untuk membentuk identitas, komunikasi, dan konsumsi mereka. Sementara itu, Generasi Alpha (lahir setelah 2013) semakin terpapar teknologi sejak dini, dengan preferensi yang berkembang seiring dengan teknologi imersif seperti video, AI, dan konten interaktif.
1. Karakteristik Utama Generasi Z Indonesia
A. Digital-First & Mobile-Centric
Generasi Z Indonesia tumbuh di tengah penetrasi internet yang tinggi dan penggunaan smartphone yang intens. Mereka menggunakan media sosial bukan hanya untuk bersosialisasi, tetapi juga untuk inspirasi gaya hidup, edukasi, dan keputusan pembelian.
Aktivitas digital harian bagi mereka tidak hanya hiburan, tetapi tempat belajar, bekerja, dan mencari peluang. Perilaku ini memperkuat kemampuan mereka untuk menilai produk atau layanan secara cepat berdasarkan ulasan, referensi sosial media, dan pengalaman teman.
B. Prioritaskan Nilai & Identitas
Bagi Generasi Z, pilihan konsumsi bukan hanya tentang fungsi produk, tetapi juga nilai yang direpresentasikan brand. Mereka cenderung memilih merek yang mencerminkan nilai pribadi seperti keberlanjutan, inklusivitas, dan tanggung jawab sosial. Ini memengaruhi preferensi gaya hidup dan keputusan pembelian mereka.
Dalam konteks konsumsi makanan maupun gaya hidup, fokus pada kesehatan dan kemudahan menjadi hal penting. Mereka menginginkan transparansi informasi, termasuk aspek kesehatan dan dampak lingkungan dalam produk yang mereka pilih.
C. Social Commerce & Interaksi Digital
Generasi Z di Indonesia sangat dipengaruhi oleh media sosial dalam proses membeli. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga marketplace serta sumber rekomendasi produk. Ini menunjukkan bahwa pola pikir mereka lebih mengutamakan interaksi sosial digital sebagai bagian dari keputusan pembelian.
2. Siapa Generasi Alpha Indonesia dan Bagaimana Mereka Berbeda
Generasi Alpha adalah generasi yang lahir setelah 2013. Mereka dikenal sebagai “true digital natives” karena sudah terpapar gadget dan teknologi canggih sejak balita. Karakter mereka mulai terbentuk sejak usia sangat dini melalui:
-
Paparan konten digital (video, animasi, AI)
-
Interaksi dengan gadget sebagai bagian hidup sehari-hari
-
Eksposur awal terhadap aplikasi edukasi dan permainan interaktif
Walau masih terlalu dini untuk mengevaluasi kecenderungan konsumsinya secara penuh, pola awal menunjukkan bahwa generasi ini akan memiliki preferensi yang lebih terarah dan unik dalam memilih konten serta pengalaman digital dibanding generasi sebelumnya.
Keterlibatan mereka dalam dunia digital tidak hanya sebagai pengguna pasif, tetapi sebagai partisipan aktif mereka ikut menentukan tren melalui konten yang mereka konsumsi, bahkan saat masih sangat muda.
3. Dampak Pola Pikir Generasi Z dan Alpha pada Pasar Indonesia
A. Tren Konsumsi yang Berubah
Generasi Z dan Alpha mengubah cara barang dan jasa dipasarkan di Indonesia. Mereka lebih cenderung memilih pengalaman yang responsif, cepat, dan personal. Hal ini terbukti dalam peningkatan tren social commerce, di mana transaksi dan interaksi pembelian semuanya terjadi di dalam ekosistem media sosial.
Tren ini telah memaksa bisnis menyesuaikan strategi pemasaran mereka, misalnya:
-
Menyediakan konten visual interaktif
-
Kolaborasi dengan influencer
-
Membuat pengalaman digital yang lancar
Hal ini berbeda dari pendekatan pemasaran tradisional yang lebih bersifat satu arah.
B. Pengaruh Nilai Sosial dalam Pilihan Brand
Generasi Z dan Alpha cenderung lebih memilih brand yang selaras dengan nilai sosial seperti keberlanjutan, inklusivitas, serta etika produksi. Mereka tidak hanya membeli produk, tetapi juga cerita dan identitas di balik produk tersebut.
Tren ini memaksa perusahaan untuk lebih transparan serta menunjukkan komitmen mereka terhadap isu-isu lingkungan dan sosial.
4. Tantangan dan Peluang bagi Bisnis di Indonesia
A. Tantangan: Kecepatan dan Keaslian
Menjaga authenticity atau keaslian sangat penting bagi generasi muda ini. Mereka mudah sekali mendeteksi pesan yang tidak tulus atau hanya sekadar “iklan kosong”. Oleh karena itu, bisnis perlu membangun narasi yang otentik, bukan sekadar promosi.
B. Peluang: Inovasi Digital dan Personalisasi
Kedua generasi ini memberi peluang bagi bisnis untuk menciptakan pengalaman belanja yang semakin adaptif. Misalnya:
-
Personalisasi produk dan layanan
-
Platform belanja berbasis komunitas
-
Pemanfaatan teknologi seperti AI untuk rekomendasi
Ini membantu meningkatkan keterlibatan pelanggan dan loyalitas jangka panjang.
Pola pikir Gen Z dan Gen Alpha di Indonesia sangat dipengaruhi oleh dunia digital sejak usia muda. Mereka menempatkan identitas mereka kedalam pengalaman digital, serta interaksi sosial sebagai bagian penting dalam gaya hidup dan pilihan konsumsi mereka. Bisnis yang mampu memahami pola pikir Generasi tersebut akan lebih kuat dalam menciptakan strategi pemasaran yang lebih relevan dan efektif.
Pahami consumer insight anda melalui riset berbasis data untuk strategi bisnis yang lebih efektif dan relevan di pasar indonesia. Sigma Research Indonesia siap menjadi partner riset anda, selama 17 tahun berkarya bersama tim ahli. Hubungi Admin SRI Melalui Whatsapp Bisnis atau email info@sigmaresearch.co.id



