Brand awareness sering dianggap sebagai indikator sederhana: apakah merek dikenal atau tidak. Namun di tahun 2025, mengukur brand awareness tidak bisa lagi mengandalkan satu metode saja. Konsumen berinteraksi dengan merek melalui berbagai kanal, sehingga pemahaman awareness perlu dibangun dari kombinasi metode yang saling melengkapi.
Artikel ini membahas tiga pendekatan utama untuk mengukur brand awareness secara komprehensif: survei, digital signal, dan brand tracking berkala—serta bagaimana mengombinasikannya agar menghasilkan insight yang lebih akurat dan actionable.
Apa Itu Brand Awareness dan Mengapa Perlu Diukur
Brand awareness menggambarkan sejauh mana konsumen mengenali dan mengingat sebuah merek dalam kategori tertentu. Awareness berperan sebagai pintu masuk dalam funnel pemasaran—tanpa awareness, proses consideration dan purchase sulit terjadi.
Namun, awareness bersifat:
-
Dinamis (mudah naik dan turun)
-
Dipengaruhi banyak faktor eksternal
-
Berbeda antar segmen dan kanal
Karena itu, pengukuran brand awareness perlu dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan agar benar-benar mencerminkan kondisi merek di pasar.
Metode 1: Survei Brand Awareness
Survei merupakan metode paling umum dan terkontrol untuk mengukur brand awareness. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengukur awareness secara langsung dari sudut pandang konsumen.
Jenis Pengukuran dalam Survei
-
Unaided awareness: merek apa yang pertama kali muncul di benak konsumen
-
Aided awareness: pengenalan merek setelah diberikan daftar
Kelebihan Survei
-
Memberikan data yang spesifik dan terarah
-
Dapat disegmentasi berdasarkan demografi, perilaku, atau wilayah
-
Cocok untuk benchmarking antar merek
Keterbatasan Survei
-
Bersifat snapshot jika tidak dilakukan berkala
-
Bergantung pada kejujuran dan ingatan responden
-
Kurang sensitif terhadap perubahan jangka pendek
Survei paling efektif ketika dirancang sebagai bagian dari program tracking, bukan riset satu kali.
Metode 2: Digital Signal dan Data Perilaku
Di era digital, brand awareness juga tercermin dari jejak perilaku konsumen. Digital signal memberikan sudut pandang tambahan yang tidak selalu tertangkap oleh survei.
Contoh Digital Signal
-
Pencarian merek (branded search)
-
Mention di media sosial
-
Share of voice di kanal digital
-
Engagement terhadap konten merek
Kelebihan Digital Signal
-
Bersifat real-time atau near real-time
-
Mencerminkan perilaku aktual, bukan persepsi yang diingat
-
Sensitif terhadap kampanye atau isu tertentu
Keterbatasan Digital Signal
-
Tidak selalu merepresentasikan seluruh target pasar
-
Sulit membedakan awareness positif dan negatif tanpa analisis lanjutan
-
Lebih kuat sebagai indikator pendukung, bukan pengganti survei
Digital signal sangat berguna untuk early detection, tetapi perlu dikontekstualisasi dengan riset terstruktur.
Metode 3: Brand Tracking Berkala
Brand tracking berkala menggabungkan konsistensi survei dengan analisis tren dari waktu ke waktu. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan melihat pergeseran awareness secara longitudinal.
Karakteristik Brand Tracking
-
Indikator yang konsisten
-
Periode pengukuran tetap (bulanan/kuartalan/tahunan)
-
Fokus pada tren, bukan hanya angka
Manfaat Utama
-
Mengidentifikasi kenaikan atau penurunan awareness secara dini
-
Mengevaluasi dampak strategi komunikasi jangka panjang
-
Menjadi dasar pengambilan keputusan strategis
Brand tracking membantu menjawab pertanyaan penting:
Apakah brand awareness kita stabil, meningkat, atau justru melemah?
Perbandingan Ketiga Metode
| Metode | Kekuatan Utama | Keterbatasan |
|---|---|---|
| Survei | Terarah & terkontrol | Snapshot jika tidak berkala |
| Digital Signal | Real-time & responsif | Perlu interpretasi konteks |
| Tracking Berkala | Melihat tren jangka panjang | Perlu komitmen konsistensi |
Tabel ini menunjukkan bahwa tidak ada satu metode yang paling sempurna—masing-masing saling melengkapi.
Mengombinasikan Metode untuk Insight yang Lebih Kuat
Pendekatan paling efektif di 2025 adalah hybrid approach, yaitu:
-
Menggunakan survei untuk validasi awareness
-
Memanfaatkan digital signal untuk monitoring cepat
-
Mengandalkan brand tracking berkala untuk keputusan strategis
Kombinasi ini membantu perusahaan:
-
Mengurangi bias satu sumber data
-
Mendapatkan gambaran awareness yang lebih utuh
-
Menghubungkan awareness dengan persepsi dan perilaku
Kesalahan Umum dalam Mengukur Brand Awareness
Beberapa kesalahan yang masih sering terjadi:
-
Mengandalkan satu metode saja
-
Mengubah indikator terlalu sering
-
Menginterpretasikan digital signal tanpa konteks riset
-
Mengukur awareness tanpa mengaitkannya dengan strategi bisnis
Menghindari kesalahan ini penting agar pengukuran brand awareness benar-benar bernilai strategis.
Di tahun 2025, mengukur brand awareness membutuhkan pendekatan yang lebih matang. Survei, digital signal, dan brand tracking berkala masing-masing memiliki peran penting.
Perusahaan yang mampu mengombinasikan ketiganya akan:
-
Memahami awareness secara lebih akurat
-
Lebih cepat merespons perubahan pasar
-
Mengambil keputusan branding berbasis data
Brand awareness bukan sekadar angka—tetapi indikator strategis yang perlu dikelola secara berkelanjutan. Hubungi Admin SRI untuk berdiskusi dengan tim profesional Sigma Research Indonesia melalui Whatsapp Bisnis atau email: info@sigmaresearch.co.id.

