Pelajaran dari American Eagle dalam Membangun Empati Publik

Empati Publik Lewat Kampanye Brand

Ditahun 2025 ini, kampanye brand tidak hanya bertujuan menarik perhatian atau meningkatkan penjualan. Kampanye juga dapat menciptakan resonansi sosial yang membangun empati publik. Biasanya ini terjadi ketika sebuah brand berhasil membuat audiens merasa dilibatkan dan dipahami. Pelajaran dari American Eagle menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang kuat dapat membantu brand berinteraksi dengan publik secara emosional, termasuk audiens muda seperti Gen Z. Kampanye ini memberikan insight tentang bagaimana brand besar beradaptasi dengan sensitivitas sosial dan bagaimana empati dapat dirancang dalam setiap pesan kampanye.

Kampanye American Eagle Merupakan Kasus yang Menarik Perhatian Publik

Pada musim gugur tahun 2025, American Eagle Outfitters meluncurkan kampanye denim bertajuk Sydney Sweeney Has Great Jeans, menampilkan aktris Sydney Sweeney sebagai wajah kampanye. Tujuan utama kampanye ini adalah memperkuat posisi brand sebagai top of mind di kalangan Gen Z dan menegaskan heritage denim mereka di pasar yang kompetitif.

American Eagle menampilkan lebih dari 200 gaya denim dan koleksi Fall 2025 yang dikurasi untuk mencerminkan gaya hidup Gen Z. Kemitraan kreatif dengan Sweeney serta aktivasi media digital dan fisik dirancang untuk menciptakan koneksi yang kuat dengan audiens muda.

Muncul Beberapa Reaksi Publik Pada Kampanye Ini

Pelajaran penting muncul dari respons audiens. Kampanye ini memicu perbincangan luas di media sosial dan platform berita. Banyak orang merayakan gaya visualnya dan keterlibatan figur publik yang dekat dengan budaya Gen Z. Namun, ada juga reaksi yang lebih rumit. Sebagian kritikus menilai slogan kampanye yang bermain dengan kata “jeans” dan “genes” dipahami secara kontroversial oleh sebagian pihak di media sosial.

Public discourse ini menimbulkan berbagai reaksi, dari dukungan penuh hingga kritik keras. Reaksi ini menunjukkan pentingnya memahami konteks sosial ketika menyusun pesan brand. Meskipun demikian, American Eagle tetap melanjutkan kampanye dan mencatat lonjakan awareness dan engagement yang signifikan.

Empati Publik lewat Narasi Brand

Empati publik dapat dibangun ketika kampanye brand merespons kebutuhan emosional dan sosial audiensnya. Beberapa pelajaran dari American Eagle dalam hal ini meliputi:

  1. Keterlibatan Audiens yang Otentik
    Menghadirkan figur seperti Sydney Sweeney, yang sudah dikenal oleh Gen Z, membantu menciptakan koneksi yang lebih personal antara brand dan audiens. Fakta bahwa Sweeney sering memakai produk brand ini sebelum kolaborasi membuat keterlibatan terasa autentik dan bukan sekadar endorsement komersial.

  2. Kesempatan untuk Diskusi Publik
    Kampanye yang menimbulkan perdebatan sering kali meningkatkan awareness, bukan hanya karena kontroversinya, tetapi karena membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang nilai sosial, budaya, dan persepsi. Reaksi ini menunjukkan bahwa audiens tidak hanya melihat produk tetapi juga berpikir tentang konteks yang lebih dalam.

  3. Kampanye dengan Nilai Sosial
    The Sydney Jean, salah satu produk kolaborasi dalam kampanye ini, menampilkan motif kupu-kupu sebagai simbol kesadaran terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Seluruh hasil penjualan produk ini disumbangkan untuk Crisis Text Line, layanan dukungan kesehatan mental.

Pelajaran Yang Dapat Diambil Oleh Pemerintah

Pelajaran dari American Eagle tidak hanya relevan untuk brand saja. Pemerintah dan pembuat kebijakan juga dapat menggunakan strategi serupa untuk merancang komunikasi publik yang lebih empatik:

  • Bahasa yang Sensitif Konteks Sosial: Kampanye pemerintah yang efektif harus mempertimbangkan sensitivitas budaya dan sosial audiensnya.

  • Menggunakan Figur yang Relevan: Kolaborasi dengan tokoh populer atau influencer dapat membantu pesan kebijakan lebih cepat diterima, asalkan pesan tersebut jelas dan bertanggung jawab.

  • Menciptakan Nilai Bersama: Seperti kampanye yang menggabungkan aksi sosial, pemerintah dapat merancang kampanye edukasi yang mengarah pada nilai bersama, misalnya kesehatan masyarakat atau keselamatan publik.

Tantangan dalam Membangun Empati Publik

Membangun empati publik melalui kampanye brand bukan tanpa risiko. Pesan yang dipersepsikan salah dapat menimbulkan backlash atau diskusi negatif di ruang publik. Hal ini terlihat dalam reaksi terhadap kampanye Sydney Sweeney, yang menerima kritik tajam sekaligus pujian. Ini menunjukkan bahwa strategi narasi perlu diuji dan dikalibrasi secara cermat untuk memastikan pesan tersampaikan dengan tepat.

Dari kampanye American Eagle mengajarkan bahwa narasi brand yang kuat mampu membentuk empati publik bila dilandasi pada keterlibatan otentik, nilai sosial, dan konteks yang relevan dengan audiens target. Empati publik bukan hanya soal menarik perhatian tetapi juga menciptakan hubungan emosional dan aksi positif.

Ingin membuat kebijakan publik dan membangun empati publik melalaui kampanye brand? Sigma Research Indonesia telah membantu banyak brand/organisasi dalam membuat kebijakan publik berbasis insight data. Hubungi Admin SRI Melalui Whatsapp Bisnis atau email info@sigmaresearch.co.id

Our Free Reports

Our Premium Reports

Most Recent Posts

  • All Post
  • Bisnis Indonesia
  • Business & Management Consulting
  • Business Consulting
  • Development
  • Investment
  • Kabar Terkini
  • Keuangan dan Finansial
  • Konsultan Riset
  • Management Consulting
  • Marketing
  • MBS
  • Mystery Shopping
  • Research indonesia
  • Riset Indonesia
  • Riset Pasar
  • Strategies
  • Trend Bisnis
  • Trend teknologi dan platform digital
    •   Back
    • Market Research
    • Agency Market Research