Sikap konsumen terhadap sustainability kini menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian. Di banyak pasar, termasuk Indonesia, semakin banyak konsumen yang mempertimbangkan dampak lingkungan, praktik, dan nilai sosial dari produk yang mereka pilih. Tren ini menunjukkan bahwa sustainability bukan lagi sekadar slogan, tetapi menjadi bagian dari perilaku konsumen modern.
Sejumlah survei global mengungkap bahwa sustainability kini dipandang sebagai nilai penting yang memengaruhi preferensi dan pilihan konsumen, terutama di kalangan milenial dan Gen Z. Konsumen tidak hanya ingin produk yang berfungsi dengan baik, tetapi juga produk yang mencerminkan nilai pribadi mereka terkait lingkungan dan masyarakat.
Tren Sustainability di Pasar Indonesia
Pasar Indonesia menunjukkan kecenderungan kuat terhadap sustainability sebagai bagian dari perilaku konsumen lokal. Sebuah laporan tren konsumen pada 2025 menemukan bahwa lebih dari separuh pembeli di Indonesia bersedia memilih produk yang menerapkan praktik keberlanjutan dalam proses produksi atau kemasannya. Brand yang tidak hanya berbicara tentang sustainability tetapi juga menunjukkan bukti nyata dalam praktik mereka cenderung mendapatkan kepercayaan lebih tinggi dari konsumen lokal.
Data tren konsumen mengungkap bahwa lebih dari 90% populasi di Indonesia menunjukkan kesadaran tentang isu perubahan iklim dan keberlanjutan secara umum, dan mayoritas buyer mengharapkan bisnis melakukan tanggung jawab yang lebih besar terkait dampak sosial dan lingkungan.
Faktor yang Memengaruhi Sikap Konsumen
Sikap konsumen terhadap sustainability tidak muncul begitu saja. Beberapa faktor utama yang memengaruhi perilaku ini antara lain:
- Kesadaran Lingkungan yang Tinggi
Kesadaran akan perubahan iklim, polusi, dan keseimbangan ekosistem semakin tinggi, terutama di kalangan generasi muda. Konsumen kini melihat sustainability bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang warisan yang akan mereka tinggalkan bagi generasi mendatang.
- Nilai Sosial dan Etika
Banyak konsumen kini menjadikan nilai sosial dan etika sebagai kriteria dalam memilih produk. Mereka ingin membeli dari brand yang adil dalam proses produksi, memperhatikan kesejahteraan pekerja, serta transparan dalam strategi keberlanjutan mereka.
- Tekanan Ekonomi dan Keterjangkauan
Walaupun kesadaran sustainability tinggi, tekanan ekonomi dan kebutuhan akan keterjangkauan tetap menjadi pertimbangan utama. Survei menunjukkan beberapa konsumen merasa sulit memilih produk berkelanjutan karena harganya biasanya lebih tinggi, terutama di tengah tekanan biaya hidup yang meningkat.
Perilaku Pembelian yang Tercermin dari Sikap
Sikap positif terhadap sustainability sering kali terjemahkan ke dalam pilihan nyata. Misalnya:
-
Konsumen lebih memilih produk dengan kemasan ramah lingkungan.
-
Ada kecenderungan untuk membayar premium untuk produk yang menunjukkan bukti praktik ramah lingkungan.
-
Banyak pembeli mencari label keberlanjutan atau klaim yang jelas sebelum memutuskan untuk membeli.
Namun, sikap ini kadang masih bertentangan dengan realitas perilaku. Beberapa konsumen meskipun peduli pada nilai sustainable, tetapi memilih produk berdasarkan harga atau kenyamanan terlebih dahulu. Ini menunjukkan adanya gap antara attitude (sikap) dan behavior (perilaku) dalam pembelian.
Bagaimana Brand Merespons Sikap Konsumen
Brand yang berhasil merespons tren konsumen terhadap sustainability biasanya melakukan beberapa strategi seperti:
- Menyampaikan Nilai Sustainability Secara Jelas
Brand perlu mengkomunikasikan komitmen mereka terhadap lingkungan dan masyarakat secara transparan. Konsumen cenderung skeptis terhadap klaim tanpa bukti, sehingga bukti nyata seperti sertifikasi atau laporan keberlanjutan akan meningkatkan kepercayaan.
- Menyesuaikan Produk dengan Preferensi Lokal
Dalam konteks pasar Indonesia, brand yang menggabungkan aspek budaya lokal, nilai sosial, atau dampak lingkungan dalam produk mereka bisa lebih resonan dengan konsumen. Hal ini termasuk penggunaan bahan lokal atau mendukung ekonomi komunitas.
- Menggabungkan Sustainability dengan Fungsi Produk
Brand yang berhasil tidak hanya menawarkan produk yang sustainable tetapi juga relevan secara fungsional dan ekonomis. Ini membantu mengurangi hambatan pembelian yang disebabkan oleh harga atau persepsi nilai.
Tantangan dan Peluang
Meskipun sikap konsumen terhadap sustainability makin kuat, tantangan tetap ada. Beberapa konsumen masih skeptis terhadap klaim brand dan khawatir terhadap greenwashing yaitu praktik pemasaran yang mengklaim produk ramah lingkungan tanpa bukti kuat. Hal ini menunjukkan pentingnya transparansi dan edukasi konsumen.
Di sisi lain, peluang besar juga terbuka bagi brand yang mampu menjembatani gap antara nilai sustainability dan kebutuhan konsumen lokal. Pendekatan yang tepat dapat meningkatkan loyalitas serta mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Hubungkan Studi AAU Untuk Strategi Komunikasi Brand Anda
Sikap konsumen terhadap sustainability di pasar lokal menunjukkan perubahan yang semakin nyata, terutama dalam dimensi attitude dan awareness. Namun, sikap positif ini tidak selalu berbanding lurus dengan usage atau perilaku pembelian nyata. Di sinilah Studi AAU menjadi alat penting bagi brand untuk memahami sejauh mana sustainability benar-benar dikenal, diterima, dan diimplementasikan oleh konsumen dalam keseharian mereka. Dengan membaca gap antara awareness, attitude, dan usage, brand dapat merancang strategi komunikasi dan produk yang lebih realistis, relevan, dan berdampak.
Ingin menghubungkan Studi AAU untuk strategi komunikasi brand anda? Lakukan bersama Sigma Research Indonesia dengan pengalaman 17 tahun telah membantu banyak brand dalam memanfaatkan studi aau untuk strategi bisnis mereka. Saatnya brand anda menggunakan data AAU untuk strategi yang lebih efektif dan relevan dengan konsumen saat ini. Hubungi Admin SRI Melalui Whatsapp Bisnis atau email info@sigmaresearch.co.id



