Sleep gap adalah selisih antara durasi tidur ideal dan durasi tidur aktual. IKEA Sleep Report 2025 menunjukkan bahwa fenomena ini terjadi secara global, meski banyak orang mengaku menyukai tidur.
Banyak orang mengatakan bahwa tidur adalah aktivitas favorit mereka. Namun ironisnya, di seluruh dunia—termasuk Indonesia—banyak orang justru tidak mendapatkan tidur yang cukup. Fenomena ini dikenal sebagai sleep gap, yaitu jarak antara durasi tidur ideal yang diinginkan dengan durasi tidur yang benar-benar terjadi.

Temuan ini diungkap dalam IKEA Sleep Report 2025, yang menunjukkan bahwa meskipun masyarakat di banyak negara menghargai tidur, realitas sehari-hari sering kali membuat mereka tidur lebih sedikit dari yang dibutuhkan.
Apa Itu Sleep Gap?
Sleep gap merujuk pada selisih waktu antara:
-
Jumlah jam tidur yang diinginkan seseorang, dan
-
Jumlah jam tidur yang benar-benar didapatkan setiap malam
Dalam laporan IKEA Sleep Report 2025, rata-rata global menunjukkan kekurangan tidur lebih dari satu jam per malam. Dalam jangka panjang, gap ini berpotensi memengaruhi kesehatan fisik, mental, dan produktivitas.
Paradoks Tidur Global: Suka Tidur, tapi Kurang Tidur
Salah satu insight paling menarik dari laporan ini adalah paradoks berikut:
Banyak orang menyukai tidur dan menganggapnya penting, tetapi tetap gagal memprioritaskannya.
Indonesia menjadi contoh menarik. Meski dinobatkan sebagai negara paling gemar tidur di dunia, sebagian masyarakatnya tetap menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan tidur ideal akibat tekanan hidup sehari-hari.
Faktor Utama Penyebab Sleep Gap
1. Tekanan Pekerjaan dan Rutinitas Harian
Jam kerja panjang, waktu perjalanan, dan tuntutan produktivitas sering memangkas waktu istirahat. Tidur menjadi aktivitas yang “dikorbankan” demi menyelesaikan kewajiban lain.
2. Penggunaan Gawai Sebelum Tidur
IKEA Sleep Report 2025 mencatat bahwa penggunaan ponsel, media sosial, atau streaming sebelum tidur menjadi salah satu penghambat utama tidur berkualitas. Paparan layar dan stimulasi mental membuat tubuh sulit masuk ke fase istirahat optimal.
3. Stres dan Beban Mental
Stres—baik terkait pekerjaan, keuangan, maupun kehidupan pribadi—membuat banyak orang sulit tidur nyenyak, meskipun waktu tidur tersedia. Akibatnya, durasi tidur berkurang atau kualitas tidur menurun.
4. Lingkungan Tidur yang Tidak Ideal
Faktor seperti kebisingan, pencahayaan, suhu ruangan, dan kenyamanan tempat tidur juga berkontribusi terhadap sleep gap, terutama di wilayah perkotaan.
Dampak Sleep Gap terhadap Kehidupan Sehari-hari
Kekurangan tidur yang terjadi secara terus-menerus dapat berdampak pada:
-
Penurunan konsentrasi dan produktivitas
-
Gangguan suasana hati dan emosi
-
Penurunan daya tahan tubuh
-
Risiko masalah kesehatan jangka panjang
Sleep gap bukan sekadar isu individu, tetapi isu gaya hidup modern yang semakin relevan secara global.
Mengapa Sleep Gap Penting Dibahas di Indonesia
Bagi Indonesia, temuan sleep gap memiliki makna khusus:
-
Menunjukkan adanya kesenjangan antara kesadaran dan praktik nyata
-
Membuka peluang edukasi tentang sleep hygiene
-
Menjadi dasar diskusi tentang keseimbangan kerja dan hidup
Data ini juga relevan bagi pembuat kebijakan, brand, dan media dalam menyusun pesan yang lebih empatik terhadap realitas hidup masyarakat.
Menuju Tidur yang Lebih Berkualitas
Mengurangi sleep gap global tidak selalu berarti tidur lebih lama, tetapi juga tidur lebih berkualitas. Kesadaran akan faktor-faktor penghambat tidur menjadi langkah awal untuk memperbaiki kebiasaan tidur sehari-hari.
Notes dari Sigma Research Indonesia
IKEA Sleep Report 2025 mengungkap paradoks global: kita mencintai tidur, tetapi sering kali tidak memberinya ruang yang cukup. Sleep gap menjadi cerminan gaya hidup modern yang padat, penuh distraksi, dan sarat tekanan.
Memahami sleep gap membantu kita menyadari bahwa tantangan tidur bukan soal kemauan, melainkan konteks hidup. Dengan pemahaman ini, diskusi tentang tidur dapat bergeser dari sekadar durasi ke arah kualitas dan keseimbangan hidup.
Hubungi Admin SRI melalui Whatsapp Bisnis untuk berdiskusi lebih detail dengan tim profesional Sigma Research Indonesia. Jangan sia-siakan kesempatan berdiskusi secara free!


