“Pelajaran Penting untuk Bisnis Car-Sharing & Sharing Economy di Asia Tenggara”
Zoomcar gagal bertahan di Vietnam karena ketidakcocokan model bisnis car-sharing dengan perilaku mobilitas lokal, preferensi kuat pada motor & ride-hailing, serta tingginya risiko operasional fleet. Vietnam bukan pasar yang cocok untuk model self-drive karena kepemilikan mobil rendah, biaya operasional tinggi, dan pengguna lebih memilih transportasi yang praktis & murah.
Gambaran Besar Pasar Mobilitas Vietnam
Vietnam adalah negara dengan pola mobilitas unik:
-
87% rumah tangga memiliki motor, tetapi hanya ±8–10% memiliki mobil.
-
Motor merupakan moda transportasi utama di hampir seluruh kota besar.
-
Jalanan padat dan sempit membuat mobil kurang efisien untuk perjalanan harian.
-
Rute pendek (≤5 km) mendominasi mobilitas urban — cocok untuk motor/ride-hailing, bukan mobil.
Pasar ride-hailing (Grab, Be, Gojek sebelum keluar) tumbuh pesat, namun self-drive car-sharing bukan kebutuhan utama konsumen.
Kasus Zoomcar: Janji yang Besar, Realita yang Berat
Zoomcar, layanan car-sharing asal India, masuk ke Vietnam dengan harapan mereplikasi kesuksesan bisnis self-drive di Bengaluru, Pune, dan kota-kota besar India.
Namun konteks pasar sangat berbeda.
🔸 2.1 Perilaku mobilitas tidak cocok
Vietnamese urban mobility sangat didominasi motor + ride-hailing.
Bagi kebanyakan pengguna, menyewa mobil hanya diperlukan untuk:
-
perjalanan luar kota
-
perjalanan keluarga
-
keperluan khusus (event, liburan, mudik)
Permintaan harian untuk “self-drive commuting” sangat rendah.
🔸 2.2 Kepemilikan mobil rendah = keterbatasan supply car-host
Model Zoomcar bergantung pada pemilik mobil lokal (host) untuk menyediakan unit.
Di India: supply besar
Di Vietnam: supply kecil (kepemilikan mobil <10%)
Artinya:
Mobil sedikit, risiko tinggi, biaya tinggi.
🔸 2.3 Risiko operational sangat besar
Car-sharing membutuhkan:
-
sistem verifikasi identitas yang kuat
-
kontrol kerusakan
-
asuransi yang kompetitif
-
parkir terdistribusi
-
SOP pengambilan & pengembalian yang aman
Vietnam memiliki tantangan:
-
tingkat kecelakaan lalu lintas tinggi
-
biaya perbaikan & klaim asuransi mahal
-
risiko kerusakan fleet tinggi
Model bisnis Zoomcar menjadi mahal dan sulit profit.
🔸 2.4 Kompetisi alternatif lebih menarik
Untuk perjalanan jarak pendek:
-
GrabBike
-
BeBike
-
Transportasi umum
Untuk jarak menengah-panjang:
-
GrabCar
-
Taksi lokal
-
Sewa mobil dengan driver (lebih aman & nyaman)
Alternatif ini lebih murah, lebih praktis, dan tidak berisiko.
Kenapa Model Sharing Economy Sulit di Vietnam?
Model sharing economy seperti car-sharing bekerja baik jika memenuhi kondisi berikut:
-
populasi dengan pendapatan menengah cukup tinggi
-
kepemilikan aset (mobil) besar
-
regulasi fleksibel
-
area parkir memadai
-
perilaku berkendara stabil
-
pengguna familiar dengan self-service model
Vietnam memenuhi sedikit saja dari kriteria tersebut.
Vietnam berbeda dengan India
India:
-
kelas menengah besar
-
banyak pemilik mobil ingin monetisasi aset
-
ruas jalan lebar, kota besar mobil-centric
Vietnam:
-
mobilitas motor-centric
-
ruang jalan sempit
-
supply mobil rendah
-
biaya fleet & parkir lebih mahal
-
demand tidak sering & tidak harian
Mengapa Zoomcar Akhirnya Mundur?
Berdasarkan laporan media Vietnam (2024), Zoomcar memutuskan menghentikan operasinya dengan alasan:
-
biaya operasional tinggi
-
profitabilitas sulit dicapai
-
volume transaksi tidak tumbuh sesuai target
-
risiko fleet besar
-
strategi ekspansi Asia tidak sesuai realita pasar Vietnam
Zoomcar juga dikabarkan menghentikan sebagian operasinya di negara lain untuk fokus ke restrukturisasi.
Pelajaran Penting untuk Perusahaan Mobility & Startups
Berikut insight utama dari kasus Zoomcar:
✔ 1. Jangan anggap pasar Asia seragam
Vietnam ≠ Thailand ≠ Indonesia ≠ India.
Behavior mobilitas sangat berbeda.
✔ 2. Validasi model bisnis dulu
Melalui feasibility study + demand modeling sebelum investasi tinggi.
✔ 3. Fleksibilitas model harus tinggi
Bukan hanya self-drive; pertimbangkan:
-
hybrid (self-drive + driver)
-
fleet partnership
-
niche segment (tourism drive, weekend family rental)
✔ 4. Pentingnya partner lokal
Untuk izin, asuransi, supply mobil, dan ekosistem operasional.
✔ 5. Operasi car-sharing = high-risk
Biaya asuransi, kecelakaan, perbaikan, dan fraud harus dihitung matang.
Peran Sigma Research Indonesia
Sigma Research dapat membantu perusahaan mobility dengan:
-
Feasibility Study model car-sharing
-
Riset perilaku mobilitas & segmentasi pengguna
-
Market sizing per kota & demand modelling
-
Analisis kompetitor mobilitas Vietnam & ASEAN
-
Uji konsep: self-drive vs driver-included
-
Mapping risiko operasional & preferensi konsumen
Penting untuk memahami pasar secara lokal sebelum membuat keputusan strategis agar terhindar dari gagal seperti Zoomcar di Vietnam.
Ingin bisnis Car-Sharing atau sewa kendaraan Anda sesuai pasar yang tepat di Indonesia? Lakukan market research sebelum ekspansi, hubungi Sigma Research Indonesia sebagai lokal partner yang telah banyak membantu nasional hingga global brand sebelum strategi perluasan market di Indonesia.



