Apakah Brand Anda Ditemukan di Channel yang Tepat?
Dalam beberapa tahun terakhir, periklanan Indonesia mengalami perubahan yang signifikan. Belanja iklan digital terus tumbuh seiring meningkatnya penetrasi internet, penggunaan media sosial, dan konsumsi konten online. Banyak brand pun mulai mengalihkan sebagian besar anggaran komunikasinya ke platform digital dengan harapan dapat menjangkau konsumen secara lebih efektif.
Namun, pertanyaan yang lebih penting sebenarnya bukan channel mana yang sedang populer, melainkan: di mana konsumen pertama kali mengenal brand Anda?
Perbedaan ini penting karena awareness merupakan tahap awal dalam customer journey. Jika sebuah brand tidak muncul pada channel yang tepat, maka peluang untuk masuk ke tahap pertimbangan dan pembelian menjadi lebih kecil, terlepas dari besarnya investasi pemasaran yang dilakukan.
Mengapa Sumber Awareness Penting?
Brand awareness menentukan apakah sebuah brand masuk ke dalam radar konsumen atau tidak. Menurut berbagai studi pemasaran, konsumen cenderung mempertimbangkan merek yang sudah dikenal dibandingkan merek yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Masalahnya, banyak perusahaan membuat keputusan channel berdasarkan tren industri atau aktivitas kompetitor. Padahal, perilaku konsumen sering kali berbeda dari asumsi yang berkembang di pasar.
Tanpa memahami sumber awareness yang sebenarnya, brand berisiko mengalokasikan anggaran pemasaran pada channel yang kurang efektif.
Dari Mana Konsumen Pertama Kali Mengenal Brand Baru?
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Sigma Research Indonesia kepada 400 responden, televisi masih menjadi sumber awareness terbesar ketika konsumen pertama kali mengenal brand baru. Namun, channel lain seperti supermarket, media sosial, dan rekomendasi dari orang terdekat juga memainkan peran yang signifikan dalam proses discovery.
|
86,7% TV Ads |
47,8% Supermarket |
52,8% Media Sosial |
58,3% Rekomendasi |
30,6% Video Online |
Selain televisi, eksposur di supermarket dan media sosial menjadi sumber awareness yang cukup kuat. Menariknya, rekomendasi dari teman atau keluarga juga masih memiliki kontribusi yang signifikan dalam memperkenalkan brand kepada konsumen.
Temuan ini menunjukkan bahwa awareness tidak dibangun melalui satu channel saja. Konsumen menemukan brand melalui kombinasi berbagai titik kontak yang saling melengkapi.
Tidak Semua Kota Memiliki Pola Awareness yang Sama
Salah satu temuan paling menarik dari survei ini adalah adanya perbedaan sumber awareness antar wilayah. Konsumen di berbagai kota ternyata tidak selalu menemukan brand baru melalui channel yang sama.
Televisi memang menjadi sumber awareness yang dominan di hampir seluruh kota. Namun, setelah itu pola perilaku konsumen mulai menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Di Medan, misalnya, 80% responden menyebut supermarket sebagai tempat pertama mereka mengenal brand baru. Sedangkan, mayoritas responden di Bandung memilih sosial media. Temuan ini menunjukkan bahwa kehadiran brand di titik penjualan masih memiliki peran yang sangat kuat dalam membangun awareness.
Perbedaan yang lebih mencolok terlihat pada rekomendasi teman atau keluarga. Di Bandung, channel ini mencapai 66,1%, sementara di Semarang mencapai 58,3%. Sebaliknya, di Medan angkanya hanya 8,3%. Artinya, kekuatan word of mouth dapat sangat berbeda tergantung karakteristik pasar dan lingkungan sosial di masing-masing wilayah.
Insight: Channel yang efektif di satu kota bisa memiliki pengaruh hingga beberapa kali lebih besar dibandingkan kota lainnya. Karena itu, strategi komunikasi yang berhasil secara nasional belum tentu memberikan hasil yang sama ketika diterapkan pada pasar lokal.
Temuan ini memperlihatkan bahwa keputusan channel marketing sebaiknya tidak hanya mengikuti tren nasional atau aktivitas kompetitor. Sebaliknya, perusahaan perlu memahami bagaimana konsumen di setiap wilayah benar-benar menemukan dan mengenal brand agar investasi pemasaran dapat menghasilkan dampak yang lebih optimal.
Mengapa Banyak Brand Salah Memilih Channel?
Ada kecenderungan bagi perusahaan untuk mengikuti channel yang sedang populer tanpa terlebih dahulu memahami perilaku target konsumennya.
Misalnya, ketika media sosial menjadi topik utama dalam dunia pemasaran, banyak brand menganggap seluruh konsumen akan menemukan brand melalui platform digital. Padahal data menunjukkan bahwa channel offline masih memainkan peran yang sangat besar dalam membangun awareness.
Selain itu, setiap kategori produk memiliki customer journey yang berbeda. Channel yang efektif untuk kategori FMCG belum tentu relevan untuk kategori lain seperti layanan keuangan, kesehatan, atau teknologi.
Implikasi bagi Strategi Marketing
Temuan ini menunjukkan bahwa pertanyaan terpenting bukanlah “channel apa yang sedang tren?”, melainkan “channel apa yang benar-benar digunakan konsumen untuk menemukan brand?”
Dengan memahami sumber awareness yang sebenarnya, perusahaan dapat:
- Mengalokasikan budget pemasaran secara lebih efisien.
- Meningkatkan efektivitas kampanye awareness.
- Mengoptimalkan kombinasi channel online dan offline.
- Mengurangi keputusan berbasis asumsi.
- Membangun strategi komunikasi yang lebih relevan dengan target pasar.
Kesimpulan
Banyak brand menghabiskan anggaran besar untuk mengikuti tren channel terbaru. Namun, data menunjukkan bahwa perilaku konsumen tidak selalu bergerak mengikuti tren yang sama. Televisi, supermarket, media sosial, hingga rekomendasi dari orang terdekat masih memainkan peran penting dalam membangun awareness. Bahkan pola tersebut dapat berbeda antar kota dan segmen konsumen. Pada akhirnya, keberhasilan strategi komunikasi bukan ditentukan oleh seberapa modern channel yang digunakan, tetapi oleh seberapa dekat strategi tersebut dengan perilaku konsumen yang sebenarnya.
FAQ
Q: Apakah media sosial masih penting untuk membangun awareness?
A: Ya. Media sosial tetap menjadi salah satu sumber awareness yang penting. Namun, data menunjukkan bahwa media sosial bukan satu-satunya channel yang berperan dalam memperkenalkan brand kepada konsumen.
Q: Mengapa setiap kota memiliki pola awareness yang berbeda?
A: Perbedaan karakteristik demografis, kebiasaan konsumsi media, dan lingkungan ritel dapat memengaruhi bagaimana konsumen menemukan brand baru.
Q: Bagaimana cara mengetahui channel yang paling efektif untuk brand saya?
A: Bersama Sigma Research Indonesia, Kami dapat membantu memahami customer journey dan sumber awareness yang digunakan target pasar, perusahaan dapat mengambil keputusan channel berdasarkan data, bukan hanya sebatas asumsi.
|
Apakah brand Anda hadir di channel yang benar? Banyak keputusan marketing dibuat berdasarkan tren atau praktik kompetitor. Padahal, channel yang paling efektif bisa berbeda untuk setiap kategori, wilayah, dan segmen konsumen. Sigma Research membantu perusahaan memahami bagaimana konsumen benar-benar menemukan brand dan channel mana yang memberikan dampak terbesar terhadap awareness.
Gratis · Satu sesi · Fokus pada strategi awareness & consumer journey |
Author: Putri Amimah Salsabila
Source of Picture: https://www.paper.id



