Riset di Masa Pandemi, Pendekatan Digital Bisa Menjadi Solusi

Menjalankan riset di masa pandemi tentu bukanlah hal yang mudah. Berbagai tantangan harus dihadapi, salah satunya saat melakukan pengambilan data. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan oleh pemerintah membatasi mobilitas masyarakat. Tidak dapat dipungkiri hal ini mempengaruhi riset dalam proses pengambilan data, khususnya apabila riset menggunakan metode wawancara tatap muka. 

Sebagai upaya untuk merespons riset di tengah kondisi yang semua serba dibatasi, kegiatan riset harus mampu melakukan transformasi dalam proses pengumpulan data. Deputi Bidang Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Tri Nuke Pudjiastuti mengatakan pendekatan digital bisa menjadi alternatif terbaik untuk melakukan riset selama pandemi. Sebab, pendekatan ini dapat tetap dilakukan meskipun ruang gerak masyarakat tengah diminimalisir karena mempertimbangkan perlindungan kesehatan. 

Pengumpulan data berbasis kegiatan non-tatap muka atau menggunakan pendekatan digital bukan suatu hal yang baru dalam dunia riset. Bahtiar Rifai selaku Peneliti Ekonomi Digital LIPI menjelaskan pada tahun 1990 pendekatan digital mulai digunakan untuk menelusuri literatur yang mengalami pergeseran dari publikasi cetak ke publikasi digital repositories yang akhirnya memunculkan survei berbasis daring untuk pengumpulan data. Perkembangan teknologi di awal tahun 2000 pun membuat pergeseran dalam melakukan survei. Mulanya survei dilakukan berbasis persuratan atau kunjungan, kini bergeser via elektronik (e-mail). Buktinya, sekarang survei berbasis daring pun sudah banyak bermunculan seperti Google Form (2008) dan Survey Monkey (2010).

Selain survei berbasis digital, pemanfaatan Big Data juga dapat diterapkan dalam mencari sumber data riset di tengah pandemi. Menurut Setia Pramana selaku Kasubdit Pengembangan Model Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Big Data dapat mengatasi jeda waktu dalam menghasilkan statistik resmi dan sebagai sumber data pendukung untuk menduga indikator yang ada. Berdasarkan sumbernya, big data dapat dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu exhaust data (telepon genggam dan transaksi keuangan), sensing data (satelit dan internet of things), dan konten digital (media sosial dan konten radio). Nantinya, sumber data ini bisa digunakan sebagai revolusi pengukuran untuk mengukur pola, memetakan perilaku masyarakat, pendapatan masyarakat, dan sebagainya. 

Namun, meskipun pendekatan digital dapat menjadi solusi, Tri Nuke menambahkan bahwa terdapat kekurangan tersendiri apabila riset menggunakan pendekatan ini, seperti pemenuhan kaidah-kaidah ilmiah, validasi data, aspek keterwakilan, kesenjangan infrastruktur, akses terhadap instrumen digital, hingga kapasitas dari peneliti tersendiri. 

Sigma Research Indonesia sebagai salah satu agensi riset pemasaran terbaik yang ada di Indonesia juga ikut menjawab tantangan riset di era pandemi. Kami telah mengadopsi pendekatan digital dalam menjalankan riset di mana kami menggunakan teknik pengumpulan data seperti online survey, online focus group discussion, dan online in-depth interview. Oleh karena itu, kami siap membantu Anda untuk menjalankan riset di masa pandemi dengan hasil terbaik!


Foto utama oleh Adeolu Eletu dari Unsplash



Leave a Reply